Jamaah AR-Fachruddin
Universitas Muhammadiyah Malang
Jamaah AR-Fachruddin
Universitas Muhammadiyah Malang

Etika dalam Berdoa

     Perintah untuk berdoa terdapat dalam Q.S Ghafir, Allah Ta'ala memerintahkan hambanya untuk selalu berdoa dan Allah telah berjanji untuk mengabulkannya. Doa itu untuk 2 hal, Ibadah dan Ketika ada masalah. Sholat itu termasuk berdo'a. Yakin ketika berdoa karena Allah Ta'ala berfirman dalam Q.S Al-Baqarah: 126 bahwa Allah Maha Dekat. Yakin bahwa Allah akan mengabulkannya. Do'a itu ibadah karena doa berarti meyakini ada Tuhan. Dalam riwayat dikatakan bahwa Allah itu Maha Malu dan Maha Dermawan. Allah Ta'ala itu Maha Malu jika Allah melihat seseorang mengangkat tangannya untuk berdoa kepadaNya namun orang tersebut menurunkan tangannya dengan kosong hampa/ tidak dikabulkan. Dalam riwayat tersebut juga menganjurkan untuk mengangkat tangan ketika berdoa seakan-akan orang yang meminta. Namun dalam kondisi tertentu juga dapat tidak mengangkat tangan ketika berdoa seperti sedang berdoa dalam sujud atau membaca doa setelah azan. Setelah berdoa ada yang diusapkan ke wajah namun ada juga yang tidak. Keduanya boleh dan ini bukan perkara yang berat sampai harus saling menyalahkan.

Etika berdoa:

(1) Memuji Allah kemudian bershalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam lalu berdo'alah. Lalu ketika ingin mengakhiri doa, sebaliknya kita bershalawat dahulu kemudian memuji Allah Ta'ala. Rasulullah mengatakan apabila tidak melakukan hal yang demikian maka kita dikatakan sebagai orang yang terburu-buru. Minimal kita dapat mengatakan Alhamdulillah dalam memuji Allah namun pujilah Allah sebanyak-banyaknya itu lebih baik.

(2) Mengakui kekurangan, penuh khusyuk, berdoa dengan harap dan cemas (Q.S Al-Anbiya': 90). Setiap berdoa harus selalu merasa diri ini sangat hina dihadapan Allah.

(3) Berwudhu sebelum berdoa. Ini cuman dianjurkan saja, bukan hal yang wajib. Hukum berdoa menghadap kiblat juga demikian.

(4) Meminta dengan sangat/bersungguh-sungguh/yakin dan membesarkan harapan. Namun tidak boleh mengatakan seperti "jika Engkau berkehendak itu terbaik maka dekatkanlah dan jika tidak maka buatlah hal itu dekat dengan saya". Hal demikian merupakan wujud memaksa kehendak Allah. Dan ketika berdoa hendaknya seperti anak kecil sebagai mana anak kecil jika meminta atau menginginkan sesuatu dengan menangis-nangis dan tidak akan berhenti minta sebelum diwujudkan keinginannya. Dalam kasus shalat istikharah, kita harus menyiapkan hati secara netral. Tidak boleh condong kepada salah satu pihak atau hal. Jika condong kepada salah satu, yang ditakutkan akan memaksa kehendak Allah.

(5) Menghindari doa keburukan terhadap diri kita dan keluarga. Karena kata-kata adalah doa jadi sudah sepantasnya kita berhati-hati dalam berbicara dan lebih baik mengatakan hal yang baik-baik saja karena ditakutkan akan dijabah atau diamini apa yang ia katakan. Seperti ketika anak nakal, jangan mengatakan anak kita dengan kata bodoh atau kata-kata kasar lainnya. Alangkah lebih baik mendoakan dia saja seperti semoga engkau mendapat hidayah.

Muhammad Fathur A. (Maganger Dept. Media dan Informasi)

Shared: